Sektor Ekonomi Informal dan Formal

Sektor ekonomi informal dalam masyarakat sangat berkembang. Sektor ini dibangun berdasarkan struktur masyarakat atau organisasi dan bersifat mandiri. Sektor informal yang umumnya terjadi pada masyarakat akar rumput (grass root) tercipta karena mereka adalah bagian yang termarjinalkan dalam struktur masyarakatknya sehingga mereka harus mengembangkan potensi diri mereka sendiri yang sebagian besar potensi itu terhisap oleh masyarakat kelas atas.
Masyarakat kelas atas yang memanfaatkan mereka mengambil keuntungan berlebih dari keterikatan antara mereka dengan orang-orang miskin tersebut. Inilah dalam Marx yang dinamakan teori surplus value dimana pihak ‘penguasa’ mengambil nilai lebih dari hasil yang dikerjakan oleh para buruhnya tanpa memberikan kompensasi atas nilai tersebut atau dikompensasi normal.
Adanya migrasi, akses atas modal (capital), dan urbanisasi menciptakan ruang gerak bagi mereka sehingga dengan segera mampu untuk membangun perekonomian mereka. Munculnya pedagang-pedagang kaki lima dikota-kota besar adalah salah satu contoh sektor ekonomi informal yang paling kelihatan.
Dikatakan sebagai sektor ekonomi informal karena umumnya pengusaha tersebut tidak memiliki badan hukum, tidak ada kewajiban untuk membayar pajak atas usahanya, dan lainnya. Pengusaha sektor informal diakui eksistensinya dalam masyarakat, namun mereka sangat minim akan proteksi. Seperti pungutan liar mengatasnamakan keamanan yang terjadi pada para pedagang-pedagang dipasar-pasar tradisional.
Untuk memperkuat basisnya, biasanya mereka membentuk komunitas mereka. Perasaan senasib sebagai pedagang atau pengusaha informal membuat mereka merasa perlu untuk membuat suatu wadah yang mampu melindungi mereka sebagai satu kesatuan, dimana pemerintah tidak mampu untuk melakukan itu. Kekuatan-kekuatan yang semakin solid ini menciptakan ketakutan sendiri bagi para pelau ekonomi terstruktur.
Para pelaku ekonomi terstruktur ini takut akan hilangnya pendapatan yang seharusnya masuk ke kas mereka. Revenue atas erosi turnover pasar yang terjadi dalam siklus ekonomi suatu wilayah bahkan Negara, menurut mereka harus dihindari. Karena hal itu akan menciptakan distorsi harga dipasaran. Isu semacam ini digunakan oleh para pelaku ekonomi terstruktur karena ketakutan mereka atas pangsa pasar yang dapat beralih ke sektor informal akibat harga barang-barang yang dijual pada sektor formal adalah sama dengan yang dijual pada sektor informal dengan harga murah karena tidak tersentuh pajak.
Namun jika menggunakan logika ekonomi, mekanisme pasar yang sebenarnya terjadi adalah pada sektor riil nya. Jika sektor riil telah mapan dalam perjalanannya, maka tingkat kesejahteraan masyarakat miskin pun dapat menaik dan sektor makro akan tersokong dengan sempurna. Tidak ada gap antara pertumbuhan mikro dan makro. Sampai hal ini belum terjadi, menggunakan indikator makro unutk menentukan tingkat kesejateraan masyarakat sepertinya harus dipertanyakan kembali.
Dalam masyarakat tertentu, berusaha pada sektor ekonomi informal seperti hal yang sudah mendarah daging. Menurut Hernando De Soto dalam bukunya The Other Path sektor informal hadir karena ruang gerak yang diberikan oleh masyarakat formal. Karena sektor ekonomi informal dianggap sebagai cirri dari budaya dan tata kebiasaan kota sebagai celah untuk menyatu dengan system kota.
Tetapi pada sisi lain, sektor informal ini tidak tertata dengan baik. Kesulitan dalam pendataan jumlah pengusaha informal membuat pemerintah sering menerapkan kebijakan yang tidak menguntungkan bagi pengusaha informal. ‘privatisasi’ lahan public menjadi lahan usaha menjadi satu contoh yang paling akrab kita temui. Pemerintah hanya mengakui eksistensi mereka, tetapi tidak memberikan perlindungan yang seharusnya dilakukan. Munculnya pasar-pasar informal ini kemudian dituding oleh pemerintah sebagai sektor yang paling tidak dapat diatur. Pembatasan-pembatasan ekspansi usaha oleh para pengusaha sektor informal dapat membuat keadaan ekonomi mereka tidak berkembang dengan baik. Sektor informal juga dianggap masalah yang bersifat structural, hadir karena adanya kemiskinan. Padahal pemeintah sendirilah yang tidak menciptakan fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk memenuhi kebutuhan akan pasar informal ini. Dan upaya untuk kearah perbaikan, penataan kembali sektor ekonomi informal menjadi lebih baik sangat minim dilakukan.

About these ads

10 thoughts on “Sektor Ekonomi Informal dan Formal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s