Aku, Minoritas.

Satu dekade di Tanah Papua, Menemukan Jati Diri di Kota Metropolitan.

Hari itu kami dipulangkan lebih cepat dari biasanya oleh bapak Kepala Sekolah kami, bapa guru Sanusi. Kami diminta untuk meninggalkan sekolah secepatnya ketika orang tua kami masing-masing telah datang menjemput. Kami bergerombol di depan sekolah menunggu orang tua kami dengan perasaan senang karena hari itu kami pulang lebih cepat meskipun bapa dan ibu guru kami memperlihatkan kecemasan yang luar biasa dari raut mukanya.

Kami tidak diperkenankan pulang sendiri.

Sekolah kami tidak jauh dari Bandara Sentani. SMP Negeri 1 Sentani namanya, dan aku pada saat itu duduk di Kelas 1 SMP. Sekolah itu berbentuk letter O, bercat dinding warna krem dan terdiri dari 11 Kelas dengan satu lapangan ditengahnya yang dibangun lebih tinggi satu meter dari lantai kelas.  Kata ibu guru SD, SMP Negeri 1 Sentani adalah SMP Negeri  favorit di Sentani dari dua SMP yang ada. Ibu guru bilang, ‘SMP Negeri 1 Sentani merupakan SMP Negeri favorit karena 70% siswanya adalah putra daerah.’ Spontan saya mengatakan, ‘ah, ibu, berati sa paling putih kah?’

Sentani sendiri merupakan Ibu Kota Kabupaten Jayapura Papua yang dapat dicapai oleh kendaraan bermotor dalam waktu kurang lebih satu jam lamanya dari kota Jayapura. Melewati bukit, beberapa perkampungan, dan Danau Sentani yang indah.

Kami menunggu sambil bercerita. Ketika itu langit mulai mendung, kami menduga bahwa hujan sebentar lagi akan turun. Sebagian dari orang tua kami belum datang menjemput.

Sekolah kami berada tepat dipersimpangan jalan, diseberang sekolah terdapat lapangan besar Sentani yang biasa dipergunakan untuk acara-acara tertentu. Tiba-tiba dari arah kanan sekolah kami, muncul beberapa mobil dengan diikuti sekumpulan orang berarak-arakan dengan membawa busur dan panah, tombak, dan senjata lainnya dengan teriakan khas ‘ui.. ui…ui’ . Ibu dan bapa guru kami sontak mendorong kami kedalam sekolah dan menutup pagar sekolah rapat-rapat.

Kerumunan itu berbelok kearah gang kecil tidak jauh dari sisi kiri lapangan besar Sentani. Setelah beberapa jam berada di dalam sekolah dan keadaan telah terlihat tenang, kami akhirnya diminta oleh bapa dan ibu guru untuk segera pulang.

Aku biasanya pulang dengan seorang kawan bernama Margaret Yoku. Biasanya perjalanan sejauh kira-kira 2,5 km dari rumah kami menuju sekolah itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Jika ada uang saku lebih, kami biasanya naik taksi. Taksi di papua lebih mirip angkot di Jakarta. Hanya saja kami tidak duduk berhadap-hadapan. Melainkan duduk mengarah kedepan.

Sejak kejadian itu, sekolah kami libur selama beberapa hari.

Aku ingat kejadian serupa pernah terjadi ketika aku SD kelas 6. Di Sentani juga. Namanya SD YPKP Sentani. Ketika itu aku tengah berjalan kaki menuju sekolah yang berjarak sekitar 2km dari rumah. Aku menggunakan jilbab, dengan pakaian panjang lengkap.

Tidak seperti biasanya, kali ini suasana jalan terasa lebih lengang. Ketika keluar dari gapura perumahan, aku ditarik secara tiba-tiba kedalam satu rumah. Rumah kecil yang berisi satu keluarga ‘jawa’. Aku terkaget-kaget. Si pemilik rumah mengintip keluar melalui jendela kecil disamping pintu sembari meminta aku untuk diam dan tenang. Aku melongo, terdiam. Sedikit aku bisa melihat keluar melalui jendela tempat dia mengintip. Aku melihat ada beberapa orang, mengarak satu orang yang ditutupi kepalanya dengan kain. Aku sendiri tidak yakin itu orang Papua atau bukan. Arak-arakan itu menutupi seluruh badan jalan, mereka membawa berbagai macam senjata tajam. Orang yg ditutupi kepalanya itu terengah2 berjalan, kadang ia terjatuh dan lututnya menyentuh aspal. Tangannya terikat kebelakang, dan sepertinya kepalanya tak sanggup ia pertahankan untuk tetap menghadap kedepan. Ia tertunduk.

Kali ini aku terdiam lebih lama dan terkaget-kaget.

‘Ko pu ruma dimana kah?’ si pemilik rumah bertanya kepada ku.

‘hah…?’

‘iyo, ko pu ruma dimana? Cepat jawab!’

‘sa pu rumah dibelakang, bapa…’

‘ibu! Cepat ko bawa dia ke belakang!’ hardiknya.

Si pemilik rumah, seorang bapak ‘jawa‘ berperawakan pendek, rambut lurus dan putih dan istrinya yang juga orang ‘jawa‘ menanyakan dimana rumahku dan bergegas menyuruhku pulang melalui pintu belakang rumahnya. Sepintas aku melihat anak-anak mereka terdiam dengan wajah penuh ketakutan ketika aku melewati sebuah kamar menuju pintu belakang.

Orang ‘jawa‘, masyarakat asli papua atau putra daerah papua selalu menyebut seseorang yang berkulit putih dan berambut lurus itu orang Jawa. Meskipun tidak semuanya yang berkulit putih dan berambut lurus itu berasal dari pulau Jawa.

Orang Papua sangat menjunjung tinggi adat dan kepercayaan, mereka juga toleran dalam hal agama tapi sedikit berkurang dalam isu ras. Bermain di Gereja bukanlah hal yang terlarang bagi kami, umat muslim. Malah dalam beberapa kesempatan, aku mengikuti ibadah minggu di Gereja mereka didekat rumah. Tapi mungkin juga diperbolehkan karena kami anak-anak. Tidak ada istilah kristenisasi atau islamisasi.

Aku ingat ketika hari minggu, dan kami bermain di sekitar gereja tempat teman ku selesai Ibadah. Namanya Elma. Aku dan Elma merupakan teman satu sekolah SD di Sentani. Aku menanyakan padanya beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinannya. ‘eh, Kristen itu pu nabi kah trada?’ – eh, Kristen itu punya nabi atau tidak? Agak lama dia berpikir dan mengawang. Mungkin ini pertanyaan yang belum terpikirkan olehnya dan harus segera ia tanyakan kepada Bapa Pendeta-nya.

‘Sa tra tau. Tapi mungkin ada. Sa belum pernah tanya ke Bapa Pendeta di Gereja.’

‘ooh, karna di Islam, sa pu Agama, kitorang pu Nabi ada 25. Banyak toh?!’ balas ku sambir menunjukkan wajah sok tahu. ‘bagaimana deng ko pu Agama? Dorang punya kah trada?’

‘eeeh, sa tra tau….’ Katanya sambil menunjukkan giginya, tertunduk, dan garuk-garuk kepala.

Tapi perbincangan seperti itu tidak lalu membuat kami menjadi menjaga jarak. Tidak lama Elma datang padaku dan menceritakan kembali diskusi kecilnya dengan Bapa Pendeta. Lalu kami menjadi banyak bercerita tentang apa-apa yang kami ketahui tentang Agama kami masing-masing, tanpa aku menceritakan tentang Isa Almasih kepadanya.

Pernah juga aku diajak oleh bapak ku ke suatu rumah petak untuk beribadah. Masih duduk di kelas 2 SD seingat ku. Rumah itu terletak di komplek dekat Universitas Cendrawasih, berbentuk seperti kos-kosan dan tidak mempunyai halaman depan. Tidak terlalu besar, hanya tipe 36 dengan satu daun pintu depan dan dua jendela disebelah kirinya. Ketika memasuki rumah itu, kita akan menemukan ruangan 3x5m yang dijadikan ruang tamu dengan satu set sofa berwana merah dan satu buah meja kaca didepannya. Di dinding diatas sofa itu terpajang foto-foto lelaki tua yang sudah berjanggut. Foto-foto itu berjumlah sekitar 5 foto. Lebih jauh ke dalam, ada ruangan yang dikosongkan dan hanya terdapat karpet hijau yang menutupi satu ruangan itu. Dari ruangan itu kita bisa menuju ke bagian belakang rumah dan juga kita dapat melihat ada satu dapur dan dua ruangan lainnya. Ada satu pintu belakang dengan satu jendela.

Tiba-tiba tidak berapa lama seorang pemuda mengadahkan badan keluar jendela belakang, membentuk tangan seperti corong, menutup salah satu telinganya, dan kemudian berteriak-teriak.

‘Allahu Akbar, Allaaaaahu Akbar!…….’ Dia mengumandangkan azan melalui jendela belakang rumah tanpa alat pengeras suara!

Waktu itu yang hadir bapak-bapak semua, ada sekitar tujuh orang. Selesai shalat, saat hendak pulang melintasi ruang tamu, aku bertanya pada bapak ku ‘itu kakek ya pa?’ sambil menunjuk-nunjuk foto Masih Mau’ud dan foto-foto Huzur. Bapak ku dan teman-temannya hanya tertawa mendengarku bertanya. Aku sendiri semenjak itu tidak pernah lagi datang ke rumah itu. Ada yang bilang bahwa orang-orang dirumah tersebut telah pindah. Dan aku terlupa akan foto-foto itu.

**

Sejak kelas 2 SMP aku dipindahkan oleh bapak ke Jakarta dengan alasan keamanan. Pada awalnya agak khawatir dengan lingkungan yang baru, ya meskipun semenjak di papua sudah sering berpindah-pindah sekolah, tetapi pindah pulau rasanya menyeramkan karena takut tidak diterima oleh lingkungan yang baru.

Tapi kehidupan ku pada awalnya lebih baik, mendapatkan teman-teman baru yang tidak mencemooh dengan sebutan orang jawa.

Aku kemudian melanjutkan sekolah SMA dibilangan Blok A. Sejak kelas dua aku sudah memakai jilbab meskipun pada tahun-tahun awal tidak dawam berjilbab. Dan pada itulah aku sering ikut dengan bibi ku untuk shalat jumat dan berkegiatan di Masjid. Awalnya aku tidak tau apa-apa, tapi nenek sering menceramahiku tentang Masih Mau’ud. Aku memulai pencarian terhadap sesuatu yang aku tidak tahu. Tapi tanpa dicaripun, sebenarnya aku telah mendapatkannya melalui nenekku dan bibiku. Tetapi pada waktu itu tidak terlalu memperhatikannya.

Hanya kepada satu orang yang aku berani mengakui bahwa ‘saya Ahmadi’. Dia adalah sahabat ku selama di SMA. Namanya Damar, orangnya manis dan putih serta telah berjilbab sedari kelas satu SMA. Ketika itu dia sedang berada di rumah ku, sedang bermain gitar dan bernyanyi bersama di kamar ku. Tiba-tiba aku mengatakan, ‘Mar, gue Ahmadiyah loh..’ dia kaget. Seketika menghentikan jemarinya dari memetik gitar. Pandangannya seperti kucing yang hendak menerkam, membuat matanya yang sipit terlihat lebar.

‘ooh..’ dia lalu melanjukan lagu yang sedang kami nyanyikan. ‘Terus kenapa?’ tanyanya ketika sebuah lagu telah kami selesaikan. Aku terdiam lalu tertawa. Kami tertawa bersama. Setelah itu dia tidak pernah menjaga jarak dengan ku, hingga sekarang. Dia justru kemudian belajar banyak tentang Ahmadiyah.

Ketika ‘terdampar’ kuliah di Perbankan Syariah UIN Jakarta -terdampar karna pada dasarnya tidak berkeinginan kuliah di UIN- dengan nilai yang kurang 5 poin dari passing grade Akuntansi UI, aku tidak menemukan mata kuliah Agama di UIN. Tapi sepertiga dari seluruh penawaran mata kuliah adalah kuliah ilmu Agama. Dan lagi, ini membuat ku melakukan pencarian itu dengan lebih intesnif yang didukung dengan buku-buku yang dimiliki oleh kampus. Aku menjadi lebih banyak bersyukur telah ‘terdampar’ di Kampus UIN dan berteman dengan banyak ‘kepala’.

Banyak diskursus mengenai Agama dikampus. Hampir setiap hari ada saja yang menyelenggarakan. Sampai-sampai kampus UIN dikatakan sebagai kampusnya Islam Liberal. Fundamentalis ada, tapi hanya golongan kecil dan tidak berpengaruh apa-apa. Tapi yang mengherankan bagi kami, mahasiswa UIN, adalah kampus-kampus umum yang hanya menawarkan satu mata kuliah Agama begitu subur oleh golongan fundamentalis Islam. Terkadang kami keheranan dengan bertanya pada diri sendiri; apakah kuliah Agama dan diskusi-diskusi mereka sebegitu dahsyat dan menakjubkannya sehingga sekali belajar langsung terserap tanpa dicerna ataukah memang daya pikir mereka sangat singkat hingga apapun diterima saja tanpa dipahami lebih lanjut?

Tapi tidak hanya beberapa mahasiswa yang fundamentalis, ada beberapa dosen pula yang fundamentalis. Dengan para dosen fundamentalis itu aku tidak bisa mengakui -tanpa ditanya- bahwa aku Ahmadi dengan pertimbangan nilai yang bisa membuat ku memperoleh gelar MA alias Mahasiswa Abadi. Pada beberapa mata kuliah kuping ku kadang kepanasan, jika sudah begitu teman-teman kelas akan membantuku dengan cara mengalihkan topik pembicaraan si dosen.

‘Jadi, tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad. Itu jelas final! Ahmadiyah itu salah besar!’

‘Jadi Bu, hukumnya apa?’

‘Ya kafir! Mereka itu bukan Islam. Jelas itu bukan.’

‘Bukan bu, maksud saya, jadi hukumnya berijtihad itu apa?’

‘Oh, ya, jadi ijtihad itu..…..’

Hanya sesekali Ahmadiyah disinggung dalam perkuliahan. Mungkin karena Rektor UIN adalah orang yang moderat. Sehingga isu fundamentalis tidak akan ter-expose secara massive di UIN. Selain itu memang mahasiswa jurusan-jurusan ilmu agama lebih mendalam pemahamannya dibandingkan jurusan ilmu umum. Itulah mengapa banyak kaum Fundamentalis tidak ‘akur’ dengan pemikir lulusan UIN.

Menjadi perempuan ditengah pergerakan menjadi sesuatu yang unik. Bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk menjadi aktifis, apalagi ditengah-tengah nizam batas pardah sebagai wanita Ahmadi dan lain sebagainya. Saya hanya perempuan sendiri biasanya, yang datang dengan membawa nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Belum pernah sejauh ini saya datang bersama-sama dengan para pengurus badan khusus perempuan Jemaat Ahmadiyah atau yang dinamai Badan Pimpinan Lajnah Imaillah.

‘eh, Riska, ini nih, orang Ahmadiyah. Kenalkan.’ Sapa temanku, Ari, yang langsung memperkenalkan ku kepada temannya. Padahal dengan jelas aku memakai name tag yang menunjukkan kalau aku mewakili LSM tempat ku bekerja. Kalau sudah begini aku tidak mungkin menerapkan batas pardah kepada teman-teman yang bukan Ahmadiyah. Jadi yang aku lakukan hanyalah berlaku ramah dan sopan kepada teman-teman. Pardah ku adalah Allah Ta’ala.

Terjun ke dunia pergerakan HAM juga tak kalah seru. Banyak belajar mengenai kebobrokan kemanusiaan di negeri ini yang ironisnya dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya sendiri. Belajar tentang daerah konflik seperti Aceh, Timor, dan Papua, yang memberikan pemahaman padaku bahwa ketika itu sewaktu aku disuruh pulang cepat-cepat dari sekolah adalah saat dimana pejuang HAM Papua, Theys Hiyo Eluay, meninggal dunia karena tertembak oleh militer. Ketika menyadari hal itu dan menyampaikannya kepada seorang teman, ia berkata ‘oooh, Theys yang separatis Papua itu ya? Yang katanya kejam itu?’ Hahh, negara ini memang absurd.

Tapi bukan tanpa hambatan. Beraktifitas di dunia HAM juga ternyata berbenturan dengan keyakinan Ahmadiyah. Suatu ketika pada kesempatan hearing internal, korban dampingan kantor yang merupakan orang yang anti terhadap Ahmadiyah mengemukakan pendapat,

‘kenapa lembaga ini masih membela Ahmadiyah? Berdasarkan diskusi dengan teman-teman saya dari HTI, Ahmadiyah itu sesat. Saya rasa tidak usah lah dibela. Mereka kan telah menodai Islam. Saya rasa mereka tidak perlu dibantu. Shalat mereka berbeda, syahadat juga….’

Dengan bijak koordinator kami menjawab,

‘saya sedari kecil sangat sedih dan tidak bisa melihat ada orang yang dikerasi. Jika ada orang yang dikerasi, siapapun itu, akan saya bela. Saya rasa yang kita bela itu bukan keyakinannya. Tapi tindakan orang lain ini yang mengacu pada kekerasan yang tidak boleh terjadi.’

Saya lega. Sangat lega. Saya tahu, koordinator saya tahu siapa saya. Tapi saya yakin meskipun tidak ada saya pada saat itu, beliau akan mengemukakan hal yang sama karena beliau juga memahami ajaran Masih Mau’ud. Saya ingin untuk berbicara dan mengklarifikasi pada saat itu juga. Tapi saya menahan diri karena bukan pada tempatnya untuk berbicara mengenai hal itu.

Advokasi khusus Ahmadiyah juga bukan merupakan hal yang mudah. Konflik yang tak berujung ini telah melenyapkan banyak harta dan nyawa. Tidak cukup dengan beberapa kaum muda yang berpikir dan bergerak. Tidak juga bisa selalu mengandalkan orang lain untuk membela. Secara kuantitas memang minoritas, tapi jangan sampai akal pikiran ini menjadi kerdil dan minor.

Pada titik ini perasaan baik-baik saja pindah pulau menjadi tidak baik-baik saja setelah menyadari bahwa dibelahan manapun di wilayah Indonesia ini aku berdiri, aku adalah minoritas. Dan saudara-saudara Ahmadi yang lain juga sedang tidak baik-baik saja. Berjuanglah dengan caramu sendiri.

Tidak perlu takut dengan status minoritas. Meskipun di tanah kelahiran sendiri aku adalah minoritas, aku tidak akan mengkhianati apa yang telah mendarah daging; aku putih berambut lurus untuk perempuan kelahiran Papua dan aku seorang Ahmadi. Bagian dari kelompok Minoritas. Tapi jadilah mayoritas dengan cara mu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s