Pengadilan Pura-pura; Independensi Peradilan di Indonesia

Deden Sudjana (DS), korban penyerangan pada 6 Februari 2011, oleh Kepolisian didakwa dengan dengan dakwaan pasal 160 KUHP tentang Penghasutan jo. Pasal 212 KUHP tentang Melawan Petugas jo. Pasal 351 ayat (1) tentang Penganiayaan Ringan. Selain menjadi terdakwa, DS juga dipanggil dalam beberapa persidangan dengan terdakwa dari pihak penyerang sebagai saksi korban.

Sidang dengan terdakwa dari pihak penyerang dilakukan di Pengadilan Negeri Serang yang terletak di Provinsi Banten dengan Majelis Hakim yang berbeda pada tiap sidangnya, telah dimulai sejak 26 April 2011 dengan 12 terdakwa dalam 11 berkas persidangan. Persidangan dilakukan secara paralel dan marathon; tiga sidang secara bersamaan diruang sidang yang berbeda dan dilanjutkan dengan tiga hingga empat berkas lainnya di masing-masing ruang sidang. Sidang dilakukan dua minggu sekali, yaitu setiap hari selasa dan kamis. Kuasa Hukum para terdakwa dari pihak penyerang merupakan Pengacara yang tergabung dalam satu kelompok bernama Tim Pembela Muslim. Pengadilan Negeri Serang juga merupakan tempat sidang Deden Sudjana sebagai terdakwa dari pihak korban.

Dalam persidangan dengan terdakwa Adam Damini bin Armad dari pihak penyerang, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Deden Sudjana sebagai Saksi Korban untuk memberikan keterangan terkait dengan keterlibatan terdakwa Adam Damini bin Armad dalam penyerangan tersebut. Pada saat itu, susunan hakim adalah Cipta Sinuraya, SH. Sebagai hakim ketua, Rehmalem Br. P, SH. dan Pinta Uli Br. Tarigan, SH. sebagai hakim anggota.

Namun selama prores pemeriksaan saksi korban di persidangan tersebut, hakim Pinta Uli Br. Tarigan dengan penuh tekanan melontarkan pertanyaan kepada Deden Sudjana mengenai motif Deden Sudjana ketika datang ke Cikeusik. Hal ini tentu tidak wajar karena dalam persidangan tersebut, Deden Sudjana seharusnya dimintai keterangan mengenai keterlibatan Adam Damini bin Armad pada penyerangan tersebut bukannya mengajukan pertanyaan kepada saksi korban yang justru menempatkannya sebagai terdakwa.

Sidang yang berlangsung selama tiga jam dengan agenda pemeriksaan kesaksian Deden Sudjana tersebut tidak banyak menyingung tentang keterlibatan Adam Damini bin Armad dalam kejadian penyerangan massa terhadap kelompok Ahmadiyah di Desa Umbulan tersebut. Justru Deden Sudjana yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum dengan tujuan memberatkan terdakwa Adam Damini bin Armad disudutkan oleh Hakim Pinta Uli Br. Tarigan dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak patut dilontarkan oleh seorang Hakim. Bahkan Jaksa Penuntut Umum tidak menyatakan keberatan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan Hakim Ketua pun tidak menegur perihal pertanyaan yang dilontarkan oleh Hakim Pinta.

Sesuai dengan Kode Etik Hakim, seorang Hakim tidak dibenarkan menunjukkan sikap memihak atau bersimpati ataupun antipati kepada pihak-pihak yang berperkara, baik dalam ucapan maupun tingkah laku. Namun dalam persidangan ini, hakim Pinta Uli Br. Tarigan tidak memperlihatkan netralitas yang harus dimiliki oleh seorang Hakim. Pernyataan Hakim memojokkan saksi dan tidak bertanya sama sekali mengenai terdakwa Adam Damini bin Armad. Pernyataan tersebut seperti; 

“Kenapa ketika keadaan genting saudara menyelamatkan diri lari kebelakang sementara yang lain-lain maju kedepan sampai mati? Saudara kenapa lari? Biarlah saudara mati duluan! Kalau saudara memang memimpin kesana bersilaturahmi. Kenapa yang lain justru (di)biarin mati duluan?!” 

Dari perkataan diatas, Hakim Pinta dapat terlihat tidak dengan maksud untuk menggali informasi mengenai keterlibatan terdakwa Adam Damini bin Armad dalam penyerangan. Justru pertanyaan-pertanyaan Hakim Pinta selanjutnya lebih menitikberatkan tentang motif Deden Sudjana datang ke lokasi kejadian tanpa menyinggung sama sekali mengenai terdakwa Adam Damini bin Armad padahal persidangan ini bukan menghadirkan Deden Sudjana sebagai terdakwa, namun sebagai saksi korban.

Pernyataan lain mengenai keyakinanan saksi yang juga memojokkan saksi;

“Ini saudara tadi, menamakan ini organisasi kerohanian? (DS: ya.) Ini Ahmadiyah ini bukan agama baru? (DS: Bukan) bukan? Organisasi kerohanian. Sebenarnya agamanya agama apa? (DS: Islam); Islam<; Ketika menunaikan ibadah haji, saudara beragama apa? (DS: Islam) Islam. Gitu ya? Baik. Kalau begitu kami juga merasa lega…”

Pernyataan-pernyataan tersebut tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang hakim. Pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan tersebut membuktikan adanya keberpihakan hakim dan juga belum selesainya masalah netralitas itu sendiri dalam diri hakim tersebut. Ini merupakan pelanggaran kode etik seorang hakim yang harus bersikap tidak berpihak kepada sisi manapun.
Tim Kuasa Hukum yang tergabung dalam Tim Advokasi Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara telah melayangkan surat kepada Komisi Yudisial yang isinya meminta kepada Mahkamah Agung untuk mengganti hakim tersebut. Serta meminta kepada Komisi Yudisial sendiri sebagai lembaga pengawas peradilan untuk mengawasi dengan lebih seksama jalannya persidangan ini karena persidangan kasus Ahmadiyah selalu diwarnai dengan ketidakberpihakan pengadilan terhadap para korban. Selanjutnya, akan mendorong Komnas HAM Indonesia untuk langsung meminta Mahkamah Agung mengganti hakim tersebut demi tercapainya peradilan yang seadiladilnya.

Penyerangan massa terhadap komunitas Ahmadiyah di Desa Umbulan, Cikeusik Banten sendiri merupakan penyerangan atas nama agama paling brutal yang mengakibatkan tiga orang Ahmadiyah terbunuh oleh massa sementara paling tidak enam diantaranya menderita luka serius dan harus dirawat secara intensif. Deden Sudjana (DS), merupakan salah satu korban selamat yang harus dirawat secara intensif karena menderita hampir putus pergelangan tangan dan beberapa luka bacok lainnya yang dilakukan oleh massa penyerang. Namun ia kemudian ditetapkan sebagai terdakwa oleh kepolisian dengan dakwaan pasal 160 KUHP tentang Penghasutan jo. Pasal 212 KUHP tentang Melawan Petugas jo. Pasal 351 ayat (1) tentang Penganiayaan Ringan.

Sila lihat videonya via youtube disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s