Ekonomi

Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa awal Indonesia belum memerdekakan diri hingga saat ini jika dimasukkan kedalam matriks maka akan menghasilkan kecenderungan pada diagram tren sirkuler dimana pertumbuhan ekonomi mengalami pasang surut yang hampir sama dalam kurun waktu tertentu meskipun mempunyai ciri dan efek yang berbeda pada setiap kasusnya tetapi sama-sama menunjukan bahwa Indonesia sedang mengalami depresiasi atau apresiasi ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi suatu negara umumnya dilihat dari pertumbuhan GDP-nya. Berikut ini akan peneliti sajikan data pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) yang berupa diagram tren sirkuler yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu enam tahun terakhir.
Diagram tren sirkuler tersebut akan membentuk garis-garis konjungtur yang bergerak secara diagonal sesuai dengan variable dependen (X) yaitu waktu (Timeline) dan variable independen (Y)-nya adalah nilai pertumbuhan ekonomi yang timeline-nya diambil berdasarkan rata-rata PDB dalam jangka waktu enam tahun terakhir .

Di Indonesia, depresi ekonomi telah terjadi selama beberapa kali. Depresi ekonomi pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1930-an yang disebut dengan masa Depresi Besar. Depresi yang terjadi pada masa itu hingga sekarang belum diketahui dengan pasti apa penyebabnya. Tetapi yang nyata terjadi adalah bubble economy yang disebabkan oleh produk-produk derivatif menyebabkan devaluasi mata uang negara-negara di Eropa (yang dinamakan dengan Blok Sterling, karena melepaskan nilai uang mereka dengan emas) tanpa diikuti dengan devaluasi dinegara-negara lainnya yang (dinamakan dengan Blok Emas, karena masih mengikatkan mata uang mereka dengan emas) mengakibatkan inflasi yang melonjak tinggi dinegara tersebut termasuk Indonesia.
Kemudian pada masa awal kemerdekaan hingga runtuhnya orde baru, Indonesia memasuki tahapan depresinya yang kedua. Perubahan nilai mata uang yang menyebabkan tingginya tingkat inflasi kurang lebih mencapai 650% pertahun merubah perekonomian di Indonesia menjadi unstable. Pencapaian pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan cara memotong nilai mata uang sebesar tiga digit (000) artinya, jumlah mata uang yang awalnya bernilai Rp 1.000.000 menjadi bernilai Rp 1000 (currency devaluation) .
Setelah tahap-tahap perbaikan yang dilakukan oleh pemerintahan orde baru, Indonesia mencapai kembali kejayaannya melalui pembangunan-pembangunan yang berkesinambungan dan kontinyu. Hal ini kemudian membuat Indonesia menjadi salah satu negara macan Asia yang mampu untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat mempengaruhi dunia internasional. Pertumbuhan ekonomi pembangunan yang baik, memicu Indonesia untuk terus bersaing dipasar global.
Setelah 30 tahun berjaya dengan pemerintahan orde baru, pada akhirnya Indonesia kembali berganti kepemerintahan dengan pemerintahan era reformasi. Pemerintahan ini diawali dengan keadaan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan dan keamanan (ipoleksosbudhankam) yang carut marut. Sebagian besar perbankan mengalami likuidasi. Ketahanan ideologi Pancasila – Bhineka Tunggal Ika mengalami goncangan yang kuat. Isu-isu SARA hampir terjadi disetiap saat.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang naik turun tersebut tak terlepas dari peranan perbankan sebagai salah satu aktor perekonomian yang paling berperan di suatu negara. Perbankan memainkan peranan penting demi terciptanya suatu tatanan ekonomi yang berbasis kepada demokrasi ekonomi ini. Sebagai lembaga intermediasi bagi para pihak yang surplus dana dengan para pihak yang kekurangan dana, perbankan menjadi basis bagi pengembangan sektor ekonomi riil. Tidak hanya itu, perbankan merupakan partner utama dalam transaksi-transaksi perdagangan baik dalam maupun luar negeri.
Namun realitanya, idealisasi lembaga keuangan perbankan dalam memenuhi tugasnya sebagai lembaga intermediary tidak dapat terpenuhi dengan baik. Meskipun berbagai kebijakan telah dibuat untuk mendorong pertumbuhan transaksi pembiyaan bagi masyarakat, namun hal tersebut tidak mampu untuk mempengaruhinya. Dengan demikian, kebijakan pembiayaan atau kredit yang dikeluarkan oleh otoritas seperti tidak berpengaruh pada kinerja perbankan untuk terus menyalurkan kredit atau pembiayaan bagi masyarakat.
Seperti yang terjadi dengan industri perbankan Indonesia pasca krisis global yang melanda Indonesia pada kuartal terakhir tahun 2008 menyebabkan perbankan begitu ketat dalam menyalurkan kreditnya. Meskipun beberapa kali Bank Indonesia memangkas suku bunga BI (BI Rate) dengan tujuan menurunkan tingkat suku bunga perbankan dengan agresif, tetapi hal itu ternyata tidak mampu untuk mendorong perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga kreditnya. Sehingga masyarakat – khususnya sektor riil – yang sangat membutuhkan dana dalam rangka memulihkan kembali usahanya, kandas kembali.
BI Rate sejak akhir tahun 2008 (Kuartal III 2008) mengalami penurunan yang sangat agresif. Dengan penurunan BI Rate tersebut, diharapkan industri perbankan mampu untuk menyalurkan kredit dengan mudah kepada sektor mikro. Sehingga tidak terjadi kekurangan likuiditas pada sektor mikro, sedangkan di sektor makronya, likuiditas cukup melimpah.
Pada saat krisis berlangsung, pihak BI untuk yang pertama kali menurunkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 8,75%. Dengan penurunan tersebut, pihak perbankan (khususnya perbankan konvensional) menyambut baik penururnan tersebut. Namun penurunan itu tidak serta merta membuat perbankan menurunkan suku bunganya. Penurunan tersebut dilakukan pada saat triwulan ke-IV 2008.
Pada Januari 2009, BI menurunkan kembali BI Rate nya dengan harapan akan memicu reaksi perbankan untuk menurunkan kembali suku bunga kreditnya. Namun perbankan masih tetap mematok suku bunga kreditnya pada kisaran 13-14% per tahun. Kemudian BI Rate tersebut kembali diturunkan sebesar 25 bps menjadi 7,5%. Dan berita terakhir adalah BI Rate telah mencapai 7% dan terindikasi dapat turun kembali.
Jika pada perbankan konvensional keuntungan berdasarkan pada suku bunga transaksi, maka perbankan syari’ah menggunakan sistem bagi hasil untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Dengan penurunan suku bunga kredit bank konvensional yang agresif, maka perbankan syari’ah mempunyai peluang untuk semakin kompetitif menghadapi persaingan dengan perbankan konvensional. Nisbah bagi-hasil (profit-loss sharing) pada perbankan syari’ah mampu untuk bersaing dengan pendapatan bunga yang ada pada perbankan konvensional. Sehingga mampu untuk menghimpun DPK lebih banyak, serta menyalurkan kembali dengan bentuk pembiayaan lebih banyak.
Selain dari sisi yield kompetitornya, bank syari’ah juga menghadapi persoalan nasabah yang merupakan jenis nasabah moderat (floating market), dimana mereka menyimpan dana mereka di bank konvensional, dan bank syari’ah sekaligus. Dengan penurunan suku bunga acuan BI, maka nasabah akan lebih berhati-hati (prudent) dalam menggunakan jasa perbankan, baik perbankan syari’ah maupun perbankan konvensional. Momentum penurunan BI Rate ini juga dapat mempengaruhi nasabah Indonesia yang mayoritas muslim untuk lebih memilih menggunakan jasa perbankan syari’ah dibandingkan dengan menggunakan jasa perbankan konvensional karena pertimbangan religiusnya.
Maka, asumsinya adalah; jika suku bunga konvensional turun seiring dengan penurunan BI Rate, maka perbankan syari’ah mampu untuk berkompetisi dengan nisbah bagi hasilnya. Karena nisbah bagi hasilnya mampu untuk bersaing dengan suku bunga kredit perbankan konvensional, maka pertumbuhan DPK diperkikan akan meningkat dan juga demikian dengan tingkat pertumbuhan penyaluran pembiayaannya. Dengan demikian, bank syari’ah mampu untuk mengumpulkan lebih banyak DPK dan menyalurkan kredit lebih lancar.
Perbankan menjadi salah satu pondasi utama dalam memajukan kesejahteraan bangsa. Oleh karena itu, kebijakan yang dihasilkan untuk industri perbankan diharapkan mampu menstimulus perekonomian bangsa ini tanpa mengabaikan kesehatan bank itu sendiri demi menjaga kelangsungan industri perbankan yang juga menopang perekonomian bangsa.

One thought on “Ekonomi

  1. maaf yaaa… diagramnya gak dimasukin.. habisan gak bisa diconvert dari .ctrx ke .jpg… hehehe.. punten…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s